” Hati-hati dengan pengeluaran-pengeluaran kecil. Kerusakan kecil dapat menyebabkan kapal besar tenggelam”
--- (Anonim) ---
Oleh Bram Garung*
Selayang
Pandang Utang
"HATI-HATI, UTANG KITA SUDAH MELAMPAUI
BATAS AMAN! (a thread)," tulis Fadli
Zon, dikutip dari akun Twitter pribadinya , Selasa (14/4).
ia memperkirakan rasio utang pemerintah terhadap PDB berada di kisaran 36
persen hingga 38 persen akhir tahun. Dengan asumsi inflasi di bawah 5 persen
dan PDB di kisaran Rp16.300 triliun.
"Saya
khawatir, krisis kesehatan akibat corona ini akan dijadikan dalih oleh
Pemerintah untuk mengeruk utang sebesar-besarnya untuk menutupi
compang-campingnya keuangan negara, jadi bukan untuk mengatasi krisis yang
sedang dihadapi rakyat itu sendiri. Ini baru satu kekhawatiran," imbuhnya. (CNN
Indonesia, Selasa, 14/04/2020)
Benarkah tudingan
tersebut? Apakah benar pengelolaan utang Indonesia compang-camping? Atau kembali
ke pertanyaan dasarnya, mengapa perlu berutang?
Dilema
Ibu dan Hidup Anaknya
Kita
kerap mendengar istilah Indonesia sebagai tanah tumpah darah, Ibu Pertiwi.
Sebagai seorang Ibu, Ibu Per, sapaan akrab ibu Pertiwi, dengan anak-anak yang tersebar dari Sabang sampai Merauke,
dari Miangas sampai Pulau Rote, tidak cukup kaya untuk memberi gizi
yang baik bagi anak-anaknya, tidak cukup kaya untuk menyekolahkan semua anaknya
saat ini, dan tidak cukup kaya untuk membiayai biaya perawatan anak-anaknya
yang sakit. Jadi, apakah Ibu Per baru akan memberi gizi yang baik bagi
anak-anaknya setelah memiliki beberapa mobil mewah?, apakah Ibu Per baru akan
meyekolahkan anak-anaknya sampai ia memiliki kuasa? dan, Apakah ibu Per baru
akan memberikan perawatan bagi anaknya yang sakit setelah memiliki harta
berlimpah?
Bukankah
sebagai seorang ibu akan berusaha semampunya umtuk memberi gizi yang baik bagi
anak-anaknya, bukankah seorang Ibu rela menanggung malu agar anaknya bisa bersekolah?
, bukankah seorang ibu rela berdarah-darah agar anaknya bisa sembuh?. Sebab, ia
tahu, bahwa anaknya tidak akan cukup kuat jika harus menunggu dirinya bergelimang
mobil mewah, ibu Per sadar, bahwa otak anak-anaknya tidak encer lagi jika harus
menuggu 20 tahun untuk mengenyam pendidikan, Ia tahu, anaknya tidak cukup kuat
bertahan jika harus menunggu kiriman uang tiba untuk melakukan pengobatan.
Jadi, salahkah Ibu Per berhutang? Salahkah Indonesia berhutang?
Cuitan
Mahasiswa: Mengupas Sedikit, Walau
Kurang Dalam
Tak dapat kita pungkiri bahwa
Indonesia masih memiliki banyak kekurangan dari berbagai sisi. Ketertinggalan
infrastruktur dan masalah konektivitas misalnya, yang menimbulkan tingginya
biaya ekonomi yang harus ditanggung oleh masyarakat hingga rendahnya daya saing
nasional. Inilah yang menjadi dasar pemerintah mengakselerasi pembangunan
infrastruktur demi mengejar ketertinggalan dan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi..
![]() |
| Gambar 1 : Perkembangan Pembiayaan Utang (Neto) dan Anggaran Infrastruktur |
Saat ini pemerintah mengambil kebijakan fiskal ekspansif dimana Belanja Negara lebih besar daripada Pendapatan Negara untuk mendorong perekonomian tetap tumbuh. Namun demikian, Pendapatan Negara belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan tersebut sehingga menimbulkan defisit yang harus ditutupi melalui pembiayaan/utang.
Namun, seperti cuitan Bapak
Fadli Zon dalam kutipan di atas, muncul pertanyaan, apakah utang kita dikelola
dengan baik? Apakah utang kita masih aman?
Terdapat 3 indikator risiko yang
menunjukkan bahwa utang pemerintah dikelola dengan baik [i],
antara lain:
- Penurunan Porsi Kepemilikan
Asing Dalam Utang Pemerintah
Data
menunjukkan bahwa rasio utang dalam valuta asing, terhadap total utang
pemerintah terus menurun dari 2015 sebesar 44,5% ke 38,6% di 2018. Hal ini
menunjukkan risiko utang yang berasal dari nilai tukar Rupiah terhadap mata
uang asing dapat ditekan. Artinya utang Indonesia tidak terdampak apabila ada
pengaruh dari luar negeri/global.
- Kenaikkan Rasio Utang dengan
Tingkat Bunga Tetap terhadap Total Utang Pemerintah
Data
menunjukkan bahwa dalam 4 tahun terakhir rasio ini meningkat dari 86,3% ke 89,6%.
Hal ini berarti risiko utang pemerintah tidak terlalu terpengaruh oleh situasi
pasar yang tidak stabil (floating).
- Kenaikan Rasio Utang yang Jatuh
Tempo Lebih dari 3 Tahun terhadap Total Utang Pemerintah
Data
menunjukkan bahwa dalam 4 tahun terakhir rasio ini meningkat dari 21.4% ke 26.5%. Hal ini
berarti risiko beban pembayaran utang pemerintah dalam jangka pendek memiliki
tren menurun, artinya alokasi pembayaran utang dalam APBN akan mengecil,
seiring dengan meningkatnya porsi utang yang memiliki jatuh tempo
menengah/panjang, sehingga setiap tahunnya APBN tidak akan terbebani oleh
cicilan utang dan dapat dialokasikan untuk belanja produktif lainnya.
Data
terakhir yang saya himpun, posisi utang Pemerintah per akhir Maret 2020
mencapai Rp 5.192,56 triliun [ii]. Utang ini mengalami
kenaikan sebesar Rp 244,38 triliun dibandingkan dengan Februari yang tercatat
Rp 4.948,18 triliun.
Peningkatan
posisi utang dinilai karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
sehingga terdapat selisih kurs sebesar Rp 2.133 per US$. Hal ini terutama
disebabkan oleh tekanan dan ketidakpastian global termasuk sejak merebaknya
virus Corona atau Covid-19. Dampak dari pandemi Covid-19 ini juga mengharuskan
pemerintah mengeluarkan stimulus baik di sektor kesehatan dan ekonomi yang
mengakibatkan defisit anggaran harus melebar dari perkiraan awal di APBN 2020.
Namun,
rasio utang ini sebesar 32,12% terhadap
Produk Domestik Bruto (PDB). Rasio utang ini masih tergolong aman, jauh di
bawah yang ditetapkan UU keuangan negara, maksimal sebesar 60% dari PDB.
Kesimpulan
Kita menyadari
bahwa kebutuhan bangsa kita sekarang ini bukan sekadar dalam urusan jangka
pendek, yakni konsumsi semata, tetapi juga adanya urgensi untuk investasi
jangka panjang, baik lewat investasi dalam bidang infrastruktur, bidang
pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Utang, sebagai salah satu salah
satu sumber pendanaan investasi jangka
panjang pemerintah, merupakan instrumen pemerintah untuk mewujudkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia, di mana semua masyarakat berhak mengakses
pelayanan dasar minimum yang sama, bukan sekadar gaungan indah dalam lima dasar negara. Yang menjadi fokus utama pemerintah sekarang ialah bagaimana menerapkan
prinsip Value for Money dalam pengelolaan utang dalam bingkai efisiensi dan
efektifitas, profesionalisme dan prudent guna mencapai pengelolaan utang yang
optimal, demi kemajuan peradaban saat ini, maupun generasi yang akan datang.
Hendaknya para policy maker, maupun kita semua, sebagai anak tercinta Ibu Pertiwi memegang teguh adagium ini:
” Hati-hati dengan pengeluaran-pengeluaran kecil.
Kerusakan kecil dapat menyebabkan kapal besar tenggelam” --- (Anonim) ---
Salam Perubahan …
*Penulis adalah mahasiswa, anak ibu pertiwi,
pengagum
Sarai, dan penyimak berita.
[i] https://www.kemenkeu.go.id/menjawabutang,
diakses pada Senin, 11 Mei 2020, 13.48 WIB.
[ii] https://www.cnbcindonesia.com/news/20200420090442-4-153005/utang-pemerintah-per-maret-2020-rp-5192-t-ini-rinciannya,
diakses pada Senin, 11 Mei 2020, 14.41 WIB.


👍👍👍
BalasHapusMaksih Fenta..🙏
HapusLuar biasa pemikiranmu bram bram💪
BalasHapusTerimakasih...🙏
Hapus