Oleh: Bram Garung*
“Kaum muda memang
miskin pengalaman.
Jadi, ia tidak tawarkan
masa lalu tetapi masa depan”
---Anonim---
Prolog
Hidup di
era globalisasi sekarang ini tentu diwarnai dengan pelbagai tantangan yang
secara eksplisit maupun implisit telah mengubah cara hidup dan cara berpikir
bahkan pola relasi antar manusia. Komunikasi dengan segala kemudahannya kini
seolah mengubah dunia ini menjadi
seukuran jari tangan melalui Handphone dan Internet. Kemajuan bidang
transportasi seolah menjadikan ruang dan waktu berada dan diatur oleh otak
manusia. Kemajuan-kemajuan di berbagai bidang kehidupan manusia ini atau yang
kerap dikenal dengan zaman ‘post-modern’mendorong
manusia untuk mampu beradaptasi dengan perubahan zaman;meregenerasi pola
perilaku dan pola pikir sesuai dengan tuntutan zaman sehingga manusia dapat
tetap ‘eksis’ di zaman
post-modernini. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah bagaimana
eksistensi kaum muda Indonesia di tengah’serangan’
globalisasi yang mencekam?
Tidak
dapat disangkal bahwa aktualisasi perubahan akibat globalisasi terepresentasi
dengan begitu jelas dalam diri kaum muda. Kaum muda dengan umur terbentang dari
15-24 tahun, ada dalam tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, emosional,
sosial, serta religius,[1]
tengah ‘terlelap’ dalam kenikmatan modernisme. Euforia terhadap modernisme di
kalangan kaum muda menyebabkan terlupakannya identitas. Pada titik puncaknya,
kaum muda menjadi pemalas dan senang memimpikan hal yang muluk-muluk, serba
enak dan melupakan realitas. Tidak sedikit kaum muda yang terlibat dalam
tindakan kriminal seperti narkoba, pencurian, penganiayaan, pemerkosaan,
pelecehan, pengeroyokan, pelanggaran lalu lintas, vandalisme, serta pelanggaran
lainnya.Berbagai krisis dalam diri kaum muda tidak terlepas dari lemahnya
fungsi kontrol sosial, yakni peran orang tuadan sekolah. Dua komponen penting
ini sepertinya kurang serius memperhatikan setiap perkembangan kaum muda. Kaum
muda yang hidup pada masa transisi, sebuah masa yang menuntut kecerdasan
menentukan dan memilih, seharusnya dibimbing dan diarahkan. Selain itu, masa
muda merupakan masa pencarian identitas. Orang yang sedang mencari identitas
adalah orang yang ingin menentukan”siapakah”
atau”apakah” yang diinginkan pada
masa mendatang. Bila mereka telah memperoleh identitas, maka mereka akan
menyadari ciri-ciri khas kepribadiannya, seperti kesukaan atau ketidaksukaan,
aspirasi, tujuan masa depan, dan perasaan serta berkewajiban mengatur orientasi
hidupnya sendiri. Perkembangan identitas masa remaja ini juga amat penting
karena ia memberikan suatu landasan bagi perkembangan psikososial dan relasi
inter personal pada masa dewasa.[2]
Realita
yang terjadi pada kaum muda yang cenderung destruktif saat ini merupakan fakta
yang mencemaskan. Hal ini menjadimungkin karena kaum mudalah ikon;generasi
penerus bangsa; pembangun bangsa di masa yang akan datang. Pernyataan ini
bukannya hendak mengesampingkan peran kaum muda saat sekarang karena saat
sekarang juga, bahkan sejak memulai hidup di dunia ini, tiap pribadi telah dan
wajib berperan dalam membangun bangsa dengan caranya masing-masing. Kembali
soal kaum muda yang kerap “dianggapentengkan”, mereka kurang menyadari perannya
sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa yang jika terus diabaikan
perlahan-lahan akan mengantarkan negara Indonesia;Nusantara terperosok ke titik
nadir; titik paling kelam yang melunturkan cita-cita perjuangan bangsa. Ironi
kelam yang telah dan masih berlangsung hendaknya menyadarkan seluruh lapisan
masyarakat terutama kaum muda untuk terus meningkatkan peran dan partisipasinya
yang secara tidak langsung mencanangkan gerakan revitalisasi peran kaum muda;
kaum muda berperan vital dalam pembangunan bangsa.
Menilik
Peran Kaum Muda: Sebuah Narasi Sejarah
Kaum
muda dan perjuangannya tak dapat dipungkiri telah menarasi dalam perjalanan
bangsa Indonesia;Nusantara. Mulai dari kehidupan prasejarah yang penuh dengan
aksi proteksi;membela diri dan kelompoknya dari cengkraman hewan-hewan buas, “kemahamisteriusan”
alam, dan perihnya peperangan antar kelompok, kaum yang dianggap muda menjadi ‘benteng hidup’ pertahanan bagi
keberlangsungan hidup kelompoknya. Peran kaum muda ini juga berlanjut ke zaman
kerajaan-kerajaan Hindu-Budha maupun Islam , dan tak sampai di situ, Nusantara
dan kaum muda kembali berpadu dalam proses perjuangan selama masa- masa
penjajahan. Kaum muda menjadi sentral pergerakan dan perlawanan rakyat melawan
penjajah baik yang dilakukan melalui perlawanan fisik, maupun strategi
diplomasi.Walaupun awalnya bertindak atau berjuang atas nama suku-suku
tertentu, sebetulnya nada persatuan telah menular keseluruh masyarakat di
Nusantara ini yang tercermin dalam ikrar bersama, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Di Surabaya, selama bulan september 1945, terjadi perebutan senjata di gudang
mesiu(arsenal) Don Bosco dan perebutan Markas Pertahanan di Jawa Timur,
perebutan Pangkalan Angkatan Laut, peristiwa Merah-Putih di hotel Yamato, dan
lain-lain;Di Yogyakarta terjadi pula perebutan kekuasaan secara serentak; di
Semarang para pemuda menawan ratusan tentara penjajah dan terlibat dalam
pertempuran lima hari yang memakan korban 990 jiwa; di Sulawesi Selatan
terdapat aksi pemuda-pemuda di bawah
nama Barisan Berani Mati yang merebut gedung-gedung penting, seperti: studio
radio, tangsi militer, dan pos polisi; di Kalimantan, para kaum muda melakukan
demonstrasi besar-besaran dengan membawa bendera Merah Putih serta mengadakan
rapat-rapat kepemudaan; di Bali, para pemuda membentuk beberapaorganisasi dalam
rangka mempertahankan dan menegakkan kedaulatan negara Republik Indonesia,
yakni antara lain AMI(Angkatan Muda Indonesia) dan PRI(Pemuda Republik
Indonesia); di Sumbawa, para pemuda melakukan aksi perebutan terhadap pos-pos
militer,yaitu terjadi di Sape, Gempe, dan Raba; Di Banda Aceh, para pemuda dan
tokoh-tokoh masyarakat membentuk
Angkatan Pemuda Indonesia(API) yang
kemudian merebut dan mengambil alih kantor pemerintahan dan mengibarkan bendera
Merah Putih. Bentrokan lain juga terjadi di daerah Langsa, Lhok Naga, Ulee
Lheue, dan lainnya; serta tempat-tempat lain di seluruh wilayah Nusantara.[3]Para
pemudiNusantara pun tak tinggal diam. Mereka tak segan menepis kultur
kebudayaan ‘wanita, anak rumahan’
dengan berani menunjukkan diri, baik lewat tindakan heroik membantu
menyelundupkan senjata bagi para pejuang, membentuk organisasi kewanitaan yang
nyata dalam konggres-konggres perempuan, bahkan turun langsung menjadi front
terdepan memanggul senjata, seperti Laskar
Wanita(Solo), Laskar Putri, Laskar
Peutjut Baren(Aceh), dan
lain-lain.[4]Aksi
kaum wanita ini setidaknya menunjukkan keinginan para wanita untuk membela
tanah air karena kesadaran bahwa dalam darah mereka mengalir pula darah ibu
pertiwi, Nusantara. Mereka juga secara implisit melontarkan gerakan emansipasi
atau feminisme yang masih terintegrasi dan dikekang dalam kultur masyarakat
indonesia waktu itu.
Paradigma
berpikir kaum muda pasca proklamasi yang ‘membebaskan’
menjadikan kaum muda semakin sadar dan terpanggil untuk menjaga keutuhan Negara
Indonesia. Masa orde lama tidak menjadikan presisi;kecermatan pandangan kaum
muda terhadap jalannya pemerintahan seakan ‘lama’pula. Justru demonstrasi terhadap ketimpangan
demokrasi semakin gencar digalakkan.[5] Tak
jauh berbeda dengan orde baru yang sering disebut sebagai zaman kediktatoran di
Indonesia, kaum muda tetap menjadi ‘substansi’
dasar oposisi Negara. Walaupun memang gerakan kaum muda zaman ini agak ‘dilunakkan’ oleh kejamnya rezim yang memimpin.
Namun harus diakui bahwa loyalitas kaum muda terhadap tanah air tidakpernah
luntur. Tindakan kaum muda yang berani keluar dari kerangkeng kediktatoran di
balik bayang-bayang ‘petrus’:
penembak misteriusala Soeharto menunjukkan basis perjuangan kaum muda bukan
sekadar asal tawur, tetapi karena kohesifitas; kelekatan hubungan kaum muda dengan
tanah airnya adalah tak terpisahkan. Aksi-aksi menentang kebijakan pemerintah
orde baru yang eksentrik serta krisis-krisis yang terjadi akhirnya mencuat.
Puncaknya pada 19-21 Mei 1998 di mana kaum muda menduduki kantor MPR RI dan
mendesak turunnya Soeharto dari jabatannya. Atas tekanan internal serta aksi
kaum muda tersebut, rezim‘kebanalan’ Soeharto
akhirnya berakhir. Lagi-lagi kaum muda mengukir sejarah perjalanan bangsa
Indonesia yang carut-marut oleh rezim-rezim banal dan zalim.Era Reformasi telah
dimulai. Sekarang giliran kaum muda ‘era
baru’ yang menarasikan karyanya bagi
bangsa dan negara.
Kaum
Muda Era Reformasi “Modern”: DimulaidariMembacadanMenulis
Kaum
muda zaman sekarang;era reformasi ‘modern’pada
hakikatnya sama dengan kaum-kaum muda era proklamasi, orde lama, ataupun orde
baru. Kaum muda sekarang ini saya yakini tetaplah pribadi yang loyal, rela
berjuang, pekerja keras, inovatif, dan lain sebagainya. Namun, hal transparan
yang menjadi problematika saat ini ialah ‘kengawuran’interpretasi
terhadap sikap’hakiki’ kaum muda itu
sendiri. Loyalitas kaum muda sekarang bertendensi pada minuman keras, narkoba,vandalisme,
dan lain sebagainya. Kaum muda sekarang kerap memelihara sikap radikal ‘semu’di mana acap kali bertindak tanpa
arah dan tujuan yang jelas.
Hal
inilah yang mendorong pemerintah sekarang ini mencanangkan serta mengimplentasikan
gerakan literasi; gerakan membaca dan menulis di kalangan kaum muda yang
terprogram secara riil dalam kalender kerja tiap satuan pendidikan.
Gerakan ini pada dasarnya merupakan salah satu wadah; ranah sekaligus sarana pengaktualisasian;
pengapresiasian diri kaum muda secara positif yang
diharapkan tertuang dalam kemampuan untuk ‘mencipta’
dalam bentuk apa saja dalam bingkai positif. Menurutsaya,
gerakan ini memiliki makna historis di mana menjadikan gerakan literasi sebagai ranah perjuangan;
hidup-mati kaum muda zaman ini dengan kesadaran penuh akan perannya yang sangat urgen di
masa sekarang, terutama juga di masa yang akan datang. Dengan gerakan literasi; membaca-menulis, kaum muda sebenarnya disiapkan untuk suatu tugas
yang lebih muliasebagai penerus cita-cita kemerdekaan yang utuh bagi negara Indonesia
dengan tugasnya sebagai penyambung tongkat estafet kepemimpinan bangsa.
Gerakan ini sederhananya mengharapkan kaum muda untuk berkembang dalam wawasan serta mampu menghasilkan sesuatu
yang berguna bagi bangsa sekalipun lewat karya-karya yang terlampau sederhana. Jadi,
di sini saya mengajak kaum muda zaman ini untuk menyadari perannya yang sangat penting dalam
perkembangan bangsa seperti yang ternarasi dalam coretan sejarah panjang negara
ini dengan melaksanakan gerakan literasi; membaca-menulis, membaca apa saja,
menulis apa saja, di mana saja,mulai dari sekarang sebagai bekal untuk kehidupan
dikemudian hari. Akhirnya saya sebagai kaum muda berani menarik kesimpulan:
“saya memang miskin pengalaman. Jadi, saya tidak
tawarkan masa lalu, tetapi masa depan!!!”
Kalau Anda?
*penulis adalah anggota kelompok
Sastra BEKAS, sedang merantau di pinggiran ibukota...
