Just another free Blogger theme

Kamis, 16 Agustus 2018



                                                                                   

    Oleh: Bram Garung*

“Kaum muda memang miskin pengalaman.
Jadi, ia tidak tawarkan masa lalu tetapi masa depan”
---Anonim---


Prolog
                        Hidup di era globalisasi sekarang ini tentu diwarnai dengan pelbagai tantangan yang secara eksplisit maupun implisit telah mengubah cara hidup dan cara berpikir bahkan pola relasi antar manusia. Komunikasi dengan segala kemudahannya kini seolah  mengubah dunia ini menjadi seukuran jari tangan melalui Handphone dan Internet. Kemajuan bidang transportasi seolah menjadikan ruang dan waktu berada dan diatur oleh otak manusia. Kemajuan-kemajuan di berbagai bidang kehidupan manusia ini atau yang kerap dikenal dengan zaman ‘post-modern’mendorong manusia untuk mampu beradaptasi dengan perubahan zaman;meregenerasi pola perilaku dan pola pikir sesuai dengan tuntutan zaman sehingga manusia dapat tetap ‘eksis’ di zaman post-modernini. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah bagaimana eksistensi kaum muda Indonesia di tengah’serangan’ globalisasi yang mencekam?
          
           Tidak dapat disangkal bahwa aktualisasi perubahan akibat globalisasi terepresentasi dengan begitu jelas dalam diri kaum muda. Kaum muda dengan umur terbentang dari 15-24 tahun, ada dalam tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, emosional, sosial, serta religius,[1] tengah ‘terlelap’ dalam kenikmatan modernisme. Euforia terhadap modernisme di kalangan kaum muda menyebabkan terlupakannya identitas. Pada titik puncaknya, kaum muda menjadi pemalas dan senang memimpikan hal yang muluk-muluk, serba enak dan melupakan realitas. Tidak sedikit kaum muda yang terlibat dalam tindakan kriminal seperti narkoba, pencurian, penganiayaan, pemerkosaan, pelecehan, pengeroyokan, pelanggaran lalu lintas, vandalisme, serta pelanggaran lainnya.Berbagai krisis dalam diri kaum muda tidak terlepas dari lemahnya fungsi kontrol sosial, yakni peran orang tuadan sekolah. Dua komponen penting ini sepertinya kurang serius memperhatikan setiap perkembangan kaum muda. Kaum muda yang hidup pada masa transisi, sebuah masa yang menuntut kecerdasan menentukan dan memilih, seharusnya dibimbing dan diarahkan. Selain itu, masa muda merupakan masa pencarian identitas. Orang yang sedang mencari identitas adalah orang yang ingin menentukan”siapakah” atau”apakah” yang diinginkan pada masa mendatang. Bila mereka telah memperoleh identitas, maka mereka akan menyadari ciri-ciri khas kepribadiannya, seperti kesukaan atau ketidaksukaan, aspirasi, tujuan masa depan, dan perasaan serta berkewajiban mengatur orientasi hidupnya sendiri. Perkembangan identitas masa remaja ini juga amat penting karena ia memberikan suatu landasan bagi perkembangan psikososial dan relasi inter personal pada masa dewasa.[2]
            Realita yang terjadi pada kaum muda yang cenderung destruktif saat ini merupakan fakta yang mencemaskan. Hal ini menjadimungkin karena kaum mudalah ikon;generasi penerus bangsa; pembangun bangsa di masa yang akan datang. Pernyataan ini bukannya hendak mengesampingkan peran kaum muda saat sekarang karena saat sekarang juga, bahkan sejak memulai hidup di dunia ini, tiap pribadi telah dan wajib berperan dalam membangun bangsa dengan caranya masing-masing. Kembali soal kaum muda yang kerap “dianggapentengkan”, mereka kurang menyadari perannya sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa yang jika terus diabaikan perlahan-lahan akan mengantarkan negara Indonesia;Nusantara terperosok ke titik nadir; titik paling kelam yang melunturkan cita-cita perjuangan bangsa. Ironi kelam yang telah dan masih berlangsung hendaknya menyadarkan seluruh lapisan masyarakat terutama kaum muda untuk terus meningkatkan peran dan partisipasinya yang secara tidak langsung mencanangkan gerakan revitalisasi peran kaum muda; kaum muda berperan vital dalam pembangunan bangsa.

Menilik Peran Kaum Muda: Sebuah Narasi Sejarah
            Kaum muda dan perjuangannya tak dapat dipungkiri telah menarasi dalam perjalanan bangsa Indonesia;Nusantara. Mulai dari kehidupan prasejarah yang penuh dengan aksi proteksi;membela diri dan kelompoknya dari cengkraman hewan-hewan buas, “kemahamisteriusan” alam, dan perihnya peperangan antar kelompok, kaum yang dianggap muda menjadi ‘benteng hidup’ pertahanan bagi keberlangsungan hidup kelompoknya. Peran kaum muda ini juga berlanjut ke zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Budha maupun Islam , dan tak sampai di situ, Nusantara dan kaum muda kembali berpadu dalam proses perjuangan selama masa- masa penjajahan. Kaum muda menjadi sentral pergerakan dan perlawanan rakyat melawan penjajah baik yang dilakukan melalui perlawanan fisik, maupun strategi diplomasi.Walaupun awalnya bertindak atau berjuang atas nama suku-suku tertentu, sebetulnya nada persatuan telah menular keseluruh masyarakat di Nusantara ini yang tercermin dalam ikrar bersama, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Di Surabaya, selama bulan september 1945, terjadi perebutan senjata di gudang mesiu(arsenal) Don Bosco dan perebutan Markas Pertahanan di Jawa Timur, perebutan Pangkalan Angkatan Laut, peristiwa Merah-Putih di hotel Yamato, dan lain-lain;Di Yogyakarta terjadi pula perebutan kekuasaan secara serentak; di Semarang para pemuda menawan ratusan tentara penjajah dan terlibat dalam pertempuran lima hari yang memakan korban 990 jiwa; di Sulawesi Selatan terdapat aksi  pemuda-pemuda di bawah nama Barisan Berani Mati yang merebut gedung-gedung penting, seperti: studio radio, tangsi militer, dan pos polisi; di Kalimantan, para kaum muda melakukan demonstrasi besar-besaran dengan membawa bendera Merah Putih serta mengadakan rapat-rapat kepemudaan; di Bali, para pemuda membentuk beberapaorganisasi dalam rangka mempertahankan dan menegakkan kedaulatan negara Republik Indonesia, yakni antara lain AMI(Angkatan Muda Indonesia) dan PRI(Pemuda Republik Indonesia); di Sumbawa, para pemuda melakukan aksi perebutan terhadap pos-pos militer,yaitu terjadi di Sape, Gempe, dan Raba; Di Banda Aceh, para pemuda dan tokoh-tokoh  masyarakat membentuk Angkatan Pemuda Indonesia(API)  yang kemudian merebut dan mengambil alih kantor pemerintahan dan mengibarkan bendera Merah Putih. Bentrokan lain juga terjadi di daerah Langsa, Lhok Naga, Ulee Lheue, dan lainnya; serta tempat-tempat lain di seluruh wilayah Nusantara.[3]Para pemudiNusantara pun tak tinggal diam. Mereka tak segan menepis kultur kebudayaan ‘wanita, anak rumahan’ dengan berani menunjukkan diri, baik lewat tindakan heroik membantu menyelundupkan senjata bagi para pejuang, membentuk organisasi kewanitaan yang nyata dalam konggres-konggres perempuan, bahkan turun langsung menjadi front terdepan memanggul senjata, seperti Laskar Wanita(Solo), Laskar Putri, Laskar Peutjut Baren(Aceh), dan lain-lain.[4]Aksi kaum wanita ini setidaknya menunjukkan keinginan para wanita untuk membela tanah air karena kesadaran bahwa dalam darah mereka mengalir pula darah ibu pertiwi, Nusantara. Mereka juga secara implisit melontarkan gerakan emansipasi atau feminisme yang masih terintegrasi dan dikekang dalam kultur masyarakat indonesia waktu itu.
            Paradigma berpikir kaum muda pasca proklamasi yang ‘membebaskan’ menjadikan kaum muda semakin sadar dan terpanggil untuk menjaga keutuhan Negara Indonesia. Masa orde lama tidak menjadikan presisi;kecermatan pandangan kaum muda terhadap jalannya pemerintahan seakan ‘lama’pula.  Justru demonstrasi terhadap ketimpangan demokrasi semakin gencar digalakkan.[5] Tak jauh berbeda dengan orde baru yang sering disebut sebagai zaman kediktatoran di Indonesia, kaum muda tetap menjadi ‘substansi’ dasar oposisi Negara. Walaupun memang gerakan kaum muda zaman ini agak ‘dilunakkan’ oleh kejamnya rezim yang memimpin. Namun harus diakui bahwa loyalitas kaum muda terhadap tanah air tidakpernah luntur. Tindakan kaum muda yang berani keluar dari kerangkeng kediktatoran di balik bayang-bayang ‘petrus’: penembak misteriusala Soeharto menunjukkan basis perjuangan kaum muda bukan sekadar asal tawur, tetapi karena kohesifitas; kelekatan hubungan kaum muda dengan tanah airnya adalah tak terpisahkan. Aksi-aksi menentang kebijakan pemerintah orde baru yang eksentrik serta krisis-krisis yang terjadi akhirnya mencuat. Puncaknya pada 19-21 Mei 1998 di mana kaum muda menduduki kantor MPR RI dan mendesak turunnya Soeharto dari jabatannya. Atas tekanan internal serta aksi kaum muda tersebut, rezim‘kebanalan’ Soeharto akhirnya berakhir. Lagi-lagi kaum muda mengukir sejarah perjalanan bangsa Indonesia yang carut-marut oleh rezim-rezim banal dan zalim.Era Reformasi telah dimulai. Sekarang giliran kaum muda ‘era baru’  yang menarasikan karyanya bagi bangsa dan negara.

Kaum Muda Era Reformasi “Modern”: DimulaidariMembacadanMenulis
                Kaum muda zaman sekarang;era reformasi ‘modern’pada hakikatnya sama dengan kaum-kaum muda era proklamasi, orde lama, ataupun orde baru. Kaum muda sekarang ini saya yakini tetaplah pribadi yang loyal, rela berjuang, pekerja keras, inovatif, dan lain sebagainya. Namun, hal transparan yang menjadi problematika saat ini ialah ‘kengawuran’interpretasi terhadap sikap’hakiki’ kaum muda itu sendiri. Loyalitas kaum muda sekarang bertendensi pada minuman keras, narkoba,vandalisme, dan lain sebagainya. Kaum muda sekarang kerap memelihara sikap radikal ‘semu’di mana acap kali bertindak tanpa arah dan tujuan yang jelas.
              Hal inilah yang mendorong pemerintah sekarang ini mencanangkan serta mengimplentasikan gerakan literasi; gerakan membaca dan menulis di kalangan kaum muda yang terprogram secara riil dalam kalender kerja tiap satuan pendidikan. Gerakan ini pada dasarnya merupakan salah satu wadah; ranah sekaligus sarana pengaktualisasian; pengapresiasian diri kaum muda secara positif yang diharapkan tertuang dalam kemampuan untuk ‘mencipta’ dalam bentuk apa saja dalam bingkai positif. Menurutsaya, gerakan ini memiliki makna historis di mana menjadikan gerakan literasi sebagai ranah perjuangan; hidup-mati kaum muda zaman ini dengan kesadaran penuh akan perannya yang sangat urgen di masa sekarang, terutama juga di masa yang akan datang. Dengan gerakan literasi; membaca-menulis, kaum muda sebenarnya disiapkan untuk suatu tugas yang lebih muliasebagai penerus cita-cita kemerdekaan yang utuh bagi negara Indonesia dengan tugasnya sebagai penyambung tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Gerakan ini sederhananya mengharapkan kaum muda untuk berkembang dalam wawasan serta mampu menghasilkan sesuatu yang berguna bagi bangsa sekalipun lewat karya-karya yang terlampau sederhana. Jadi, di  sini saya mengajak kaum muda zaman ini untuk menyadari perannya yang sangat penting dalam perkembangan bangsa seperti yang ternarasi dalam coretan sejarah panjang negara ini dengan melaksanakan gerakan literasi; membaca-menulis, membaca apa saja, menulis apa saja, di mana saja,mulai dari sekarang sebagai bekal untuk kehidupan dikemudian hari. Akhirnya saya sebagai kaum muda berani menarik kesimpulan:
saya memang miskin pengalaman. Jadi, saya tidak tawarkan masa lalu, tetapi masa depan!!!”
Kalau Anda?


*penulis adalah anggota kelompok 
Sastra BEKAS, sedang merantau di pinggiran ibukota...





                       



         [1]Charles  M. Shelton, SJ,”SpiritualitasKaumMuda”, (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 9.

[2]Desmita,”PsikologiPerkembangan” dalammakalah “5 S: UpayaPemgembalianIdentitasKaumMuda”    (SeminariYoh. Paulus Labuan Bajo, 2016)
[3]I WayanBadrika,”sejarahuntuk SMA kelasXll”,(Jakarta:Erlangga,2006), p.14.
[4]Ibid.,p. 32.
[5]Ibid., p. 122.

Selasa, 14 Agustus 2018




“Peminum yang mabuk dinihari”

: yang kutemukan di pelataran pagi

Ia meneguk tuak yang sudah bosan
Menengok kusam mulutnya
Matanya tak benar-benar dikenal
Meski oleh sahabat karibnya

Laki-laki itu tak mau merintih
Air liurnya sudah hanyut di puntung rokok
Dan meskipun asbak berulang kali
mengeluh geram
arus waktu rupanya enggan menagih
detak jam

Malah malam sekarat di balik rompi ketatnya
dan sisa hari dibungkamnya di bibir sebelah dalam
celetup peminum, letupan tuak terakhir
yang belum sempat dihujamkan

tersaruk-saruk ia menyeka bayangan tubuhnya
keringat darah mengguyur pipinya yang memerah
sehingga sisa-sisa tuak melumuri rompi seksinya

jari beningnya meleleh pekat
ia minum dan mabuk dan telapak tangannya
mengibaskan bayangan hitam orang yang mati, dinihari....


                

                                                                                                                           Borong, medio Juli 2018


















“Pasar Borong
:mata masih ada. Ia tidak ke mana-mana

Pasar Borong. Tempatnya di belakang pertokoan
Di butut kota yang sumpek dan riuh
Saya suka iseng main ke sana, mengamati tingkah
Seorang lelaki penjual koli yang sering datang
 menemui perempuan gembrot penjual raci yang dengkurnya menggelegar 
di antara kerumunan penjual bawang, jerit radio, 
dan suara orang-orang kedinginan

Ia lelaki melankolis. Kadang mengaku sebagai ata mbeko, 
kadang menyebut dirinya dalu Cibal
Tapi banyak yang bilang ia cucu sulung dari kemelaratan, 
menantu bungsu dari kemiskinan atau 
anak yang hilang dari kemakmuran.

Ia suka minum, merokok koli dan kalau mabuk,
Tubuhnya yang kurus tertanam lesu 
di pangkuan si perempuan gembrot yang selalu sabar menjilat asap koli nya

Sampai keesokan paginya lelaki itu masih tertidur pulas di sebelah mimpi si gembrot 
yang tak kurus-kurus.

Pasar Borong masih sama saja
Mas Jawa masih menjajakan barang lelangnya
Jalanan berlubang masih setia berbaring di samping ibu penjaja ikan
 di antara penjual sayur dan bandar tuak

Saya tidak bilang si perempuan gembrot masih seibu dengan perzinahan.tapi.....
Ia masih menyadap asap di dekapan penjual koli

                                             

                                                                                    Borong, medio juli 2018









“Berdua dengan Sandal”

:Bergita, ada kamu juga di sana

Pada natalan tahun lalu, aku dongkol saja seharian
Maklum, celana lagi mudik di kampung pamannya
Jadi, tinggal aku dan sandal saja di rumah

Sandal dari tadi murung saja
Diseduhnya secangkir kopi dengan tatapan hampa
Sepertinya ia rindu pulang kampung,
rindu mengemas  barang-barang, rindu macet-macetan di jalanan, 
dan tidur-tiduran dekat terminal Borong.
Ia juga paling rindu sesak-sesakkan dengan sepatu hak tinggi yang dikenalnya kali lalu.

“Ayo, kita jalan-jalan”, aku menarik kesimpulan.


                                                Borong, 15/05/18





























“Sandal Ibu”
:hanya untuk kamu tahu, Bergita

Alhamdulilah, kemarin sandal ibu sudah boleh pulang
Sudah seminggu ia melongo di pintu masuk UGD, menunggu pemiliknya yang 
masih main tutup-tutupan mata

Namun kali ini ia pulang sendiri naik ambulance
Ia duduk di kursi depan, membokongi cacing berbaju putih 
yang kedinginan di bak belakang.

“mana ibu?”, aku terlihat heran

Borong, 02/06/18
























































( Bram Garung, bergiat di kelompok sastra BEKAS
Tinggal Borong)