Just another free Blogger theme

Sabtu, 20 Mei 2023

"𝐇𝐞𝐫𝐞 𝐖𝐞 𝐆𝐨"

: 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘵, 𝘣𝘶𝘮𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘶𝘢𝘴


    Sabtu, 20 Mei 2023,  saya menelusuri jalanan Larantuka di pagi hari menuju Pelabuhan Larantuka menggunakan motor kesayangan yang sudah 2-3 kali masuk "ruang perawatan" dalam sebulan terakhir.  Saya langsung menaiki Kapal kayu tujuan Pelabuhan Wailebe untuk selanjutnya menuju Desa Lelen Bala, Kec. Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur.

Desa Oyang Barang (Dok. Pribadi)

 

    Dalam perjalanan ke Desa Lelen Bala, saya melewati hamparan rumput yang cantik di Desa Oyang Barang kecamatan Wotan Ulumado, sekaligus mengabadikan beberapa pose di sana. Sungguh indah!!!

    Selanjutnya, saya meneruskan perjalanan menuju Terong, sebelum berbelok ke arah Desa Lelen Bala (Jalan lain menuju Desa Lelen Bala ialah melalui Desa Lamahala). Desa Lelen Bala merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Desa ini merupakan satu dari 21 Desa dan Kelurahan yang berada di Kecamatan Adonara Timur.


Kantor Desa Lelen Bala (Dok. Pribadi)

    Desa ini sendiri bermukim memenuhi hamparan perbukitan sekaligus menjadi salah satu daerah perbukitan tertinggi di wilayah Adonara Timur dengan view menghadap Kota Wae Werang dan Pantai sekitarnya. Sungguh menantang perjalanan menuju Desa ini.  Jalanan rabat beton menuju desa ini sebagian besar dalam kondisi rusak parah, hal serupa dengan jalanan aspal yang sudah menyisahkan potongan-potongan saja. Hal sebaliknya saya jumpai ketika memasuki Desa ini, dimana sebagian besar jalan Rabat Betonnya cukup terawat dan layak dilalui.

Balkon Kantor Desa Lelen Bala (Dok. Pribadi)
Desa Lelen Bala (Dok. Pribadi)

   Masyarakat di Desa ini  Sebagian besar bersuku Lamaholot, bermata pencaharian petani dengan hasil pertanian utama ialah kemiri, kakao dan lain-lain. Keramahan masyarakat Lelen Bala menjadi salah satu yang paling berkesan dalam kunjungan saya ke Desa ini. Sampai jumpa di lain kesempatan semua.

"Lewotanah, Liko Lapak"


-𝗯𝗿𝗮𝗺𝗴𝗮𝗿𝘂𝗻𝗴





















 



Minggu, 15 Januari 2023

 


Tak dipungkiri lagi, beberapa waktu terakhir, media-media dibanjiri berita seputar potensi resesi ekonomi dan krisis pangan Indonesia pada 2023 yang membuat cemas masyarakat. Volatilitas ekonomi global ini mulai menguat sejak kuartal keempat tahun 2022. 


Lonjakan signifikan  harga pada  sektor  pangan  dan  energi  pun  kian  terasa  di dunia. Hal ini    disebabkan    oleh penurunan tingkat stok bahan pangan dan energi global. Krisis pada pangan   dan energi membuat negara-negara global waspada akan tekanan inflasi dan juga resesi. 


Volatilitas ini juga menyebabkan ekonomi negara-negara dunia saling bergejolak satu sama lain. Terjadinya gejolak pasar global seperti pasar modal, pasar valuta asing (valas), serta pasar uang membuat perekonomian dunia menjadi terombang-ambing. Terombang-ambingnya ekonomi global merupakan awal dari krisis ekonomi global. (Hutagaol, 2022).


Potensi Ancaman Resesi

Resesi adalah kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, serta menurunnya kegiatan dagang dan industri (Kristanti, 2021). Selain itu resesi juga dapat diartikan sebagai kemunduran aktivitas ekonomi yang diukur berdasarkan tingkat konsumsi masyarakat, serapan belanja negara, investasi sektor riil, dan tingkat ekspor-impor (GDP). 


Secara teknis, resesi didefinisikan ketika pertumbuhan GDP minus atau negatif berbanding tahun lalu dan terjadi selama 2 kuartal berturut-turut. Salah satu faktor utama dibalik perkiraan resesi global pada 2023 adalah lonjakan inflasi sebagai dampak dari konflik Rusia-Ukraina. Perang Rusia-Ukraina mengganggu rantai pasokan global, memicu krisis, terutama di sektor pangan dan energi, yang pada gilirannya mempercepat inflasi yang tinggi di berbagai negara. 


Hal ini diperparah dengan adanya Scarring Effect akibat  pandemi  Covid-19 yang masih dirasakan yang cukup memberikan dampak negatif pada perekonomian dunia, seperti yang terjadi di Indonesia di tahun 2020 dengan pasar pekerjaan formal menurun di bawah 40%. Penurunan pasar pekerja ini mengakibatkan meningkatnya angka PHK yang merupakan wujud nyata dari scarring effect. 


Faktor lain yang menstimulus terjadinya resesi pada 2023 ialah kenaikkan suku bunga. Selama tahun 2022, Bank of England menaikkan suku bunga  acuan sebesar  200  basis  poin.  Pada  saat  yang  sama,  The  Fed menaikkan  suku  bunga acuan  sebesar  300  basis  poin. Menanggapi    hal    tersebut,    Bank    Indonesia    juga menaikkan  suku bunga  acuan  sebesar  50  basis  poin menjadi 4,25% guna menjaga daya beli masyarakat dan mendorong investasi asing ke dalam negeri (Kompas, 28 September 2022). Kenaikan suku bunga  acuan  secara  simultan  oleh  bank sentral  di seluruh   dunia ini   akan   berdampak   pada pertumbuhan ekonomi dan dapat menyebabkan resesi global.

 

Baca juga: Membaca Presidensi G20 untuk Indonesia


Perisai Resesi ala Indonesia
Banyak ekonom menilai, potensi terjadinya resesi atau krisis di Indonesia terbilang kecil. Hal ini didukung dengan ketahanan sektor energi, pangan, dan finansial Indoensia yang tidak tergantung pada rantai pasok dunia. 

Dari sisi energi listrik misalnya, lebih dari 50% pasokan listrik domestik bersumber dari batu-bara yang sangat melimpah di Indonesia dengan cadangan batu-bara terbesar nomor 7 di dunia. Yang perlu menjadi perhatian dari sisi energi ialah ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) yang mana konsumsi masyarakat selalu melampaui kapasitas produksi sejak tahun 2004. 

Dari sisi ketahanan pangan, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) menegaskan , sampai 12 Januari 2023, total stok beras Bulog saat ini  341 ribu ton yang terdiri dari 333 ribu ton atau 97,9 persen stok cadangan beras pemerintah (CBP)  dan 7,1 ribu ton atau 2 persen stok komersial yang diproyeksikan dapat mengimbangi tingkat kebutuhan beras nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan. Hal ini menegaskan survei yang dilakukan Global Food Security Index (GFSI) yang menunjukkan score ketahanan pangan Indonesia tahun 2022 meningkat dibanding tahun sebelumnya (Economist Impact, 2022). 

Ketahanan finansial (perbankan) juga menjadi salah satu faktor penting mencegah Indonesia terjerumus ke dalam jurang resesi. Goncangan pada perbankan dapat berpengaruh ke banyak sektor yang bergantung pada pendanaan perbankan, bahkan berpotensi menimbulkan krisis keuangan seperti tahun 1998 dan 2008. Rasio Kredit Macet (Non Performing Loan/NPL) dan Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) dapat dijadikan indikator untuk melihat suatu negara memiliki ketahan perbankan yang baik atau tidak. 

Menurut survei yang dirilis OJK, NPL Perbankan mengalami penurunan menjadi 2,68% di Akhir 2022 dari 2,78% per September 2022. Sementara, angka NPL yang wajar menurut Bank Indonesia (BI) maksimal pada level 5% atau dapat dikatakan, NPL Perbankan Indonesia masih tergolong wajar. Rasio kecukupan modal perbankan di Tanah Air hingga November 2022 juga tercatat cukup memadai yakni tercatat sebesar 25,49% dengan batas minimum menurut BI ialah 8%.

Masyarakat Harus Apa?

Terlepas dari ketahanan sektor energi, pangan, dan finansial, kita perlu waspada akan adanya potensi yang mungkin terjadi yang dapat menghambat aktivitas ekonomi di tahun 2023. Adapun yang dapat kita siapkan guna menghadapi tantangan ekonomi di tahun 2023, antara lain ialah pastikan memiliki dana darurat yang sewaktu-waktu dapat digunakan dalam keadaan mendesak. 

Selain itu, pengeluaran-pengeluaran yang dirasa kurang penting dapat dikurangi dan dialokasikan pada tabungan atau investasi. Dinamika global juga berdampak pada instrumen investasi yang cenderung fluktuatif. Berinvestasi pada instrumen berisiko rendah dan likuid, seperti emas, deposito, dan reksadana pasar uang dapat menjadi pilihan bijak di tengah ketidakpastian global. 

Harapannya, apapun yang akan terjadi selama tahun 2023, masyarakat setidaknya memiliki pemahaman dan persiapan yang baik serta mampu mengambil keputusan yang bijak dalam menentukan langkahnya.

                                                                                             

 *tulisan ini telah dipublikasi oleh aksinews.id 
dengan judul, Isu Resesi dan Jalan Terjal 2023 

    Bram Garung
                                                                                                Larantuka, 15 Januari 2023

Sabtu, 12 November 2022



Eksistensi forum Group of 20 (G20) merupakan representasi perekonomian global dengan berkontribusi lebih dari 60% populasi bumi, 75% perdagangan global, dan 80% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia (Bank Indonesia, 2022). Hal ini memunculkan ekspektasi yang tinggi pada forum ini guna menghasilkan langkah dan terobosan besar untuk mengatasi persoalan yang terjadi saat ini. 

Isu mengenai krisis pangan, energi, kesehatan, hingga keuangan global menjadi topik hangat untuk dicari jalan keluarnya agar pemulihan ekonomi pascapandemi dapat dirasakan bersama tanpa ada satu negara pun yang tertinggal. 

Kegiatan ini seyogyanya bukan hanya memberikan dampak pada ekonomi nasional maupun Bali saja, tetapi menunjukkan (showcasing) berbagai kemajuan yang telah dicapai Indonesia kepada dunia, dan menjadi titik awal pemulihan keyakinan pelaku ekonomi pascapandemi, baik dari dalam maupun luar negeri.

Presidensi G20 di Indonesia tahun ini sebenarnya masih dibayang-bayangi dengan berbagai macam isu global yang tentu sangat berdampak pada kepentingan masing-masing negara anggota pada forum ini. 

Pertama, adanya perang dagang antara China dan Amerika; Kedua, Pandemi Covid-19 dan kebijakan pengendaliannya; Ketiga, perang antara Rusia dan Ukraina yang belum berakhir, termasuk isu terkini terkait ketegangan antara China dan Taiwan. 

Hal ini menuntut adanya strategi khusus dalam merumuskan kesepahaman antara negara-negara anggota di tengah berbagai kepentingan nasional masing-masing.

G20 dan Manfaat Nasional 

Agenda pertemuan G20 yang sementara berjalan, berpusat pada dua jalur pertemuan yakni sherpa (sherpa track) dan jalur keuangan (finance track). 

Jalur sherpa membahas isu-isu pembangunan dan perekonomian yang luas, meliputi: ekonomi, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, energi, pemberdayaan perempuan, transportasi, pariwisata, perlindungan sosial, perubahan iklim, dan lain-lain. Jalur keuangan sendiri mengawal isu di bidang fiskal, sektor keuangan dan moneter. 

Kedua jalur ini berkoordinasi dalam berbagai pertemuan dan puncaknya pada pertemuan tingkat kepala negara (Konferensi Tingkat Tinggi/KTT) yang dilaksanakan di Bali pada 15-16 November 2022. Forum kali ini dihadiri 16 pimpinan negara anggota termasuk Presiden Tiongkok, Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador, dan Presiden Brasil Jair Bolsanor berhalangan hadir dalam agenda ini.

Diperkirakan kontribusi G20 mencapai US$533 juta atau sekitar Rp7,5 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2022. Konsumsi domestik yang didorong Presidensi G20 diperkirakan akan naik sampai dengan Rp1,7 triliun dan membangkitkan serapan tenaga kerja hingga lebih dari 33 ribu orang terutama pada sektor transportasi, akomodasi, meeting, exibition, dan UMKM.

G20 juga merupakan bentuk pengakuan atas status Indonesia sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia, yang juga dapat merepresentasikan negara berkembang lainnya. 

Momentum presidensi ini juga hanya terjadi satu kali setiap generasi (20 tahun sekali) dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memberi nilai tambah bagi pemulihan Indonesia, baik dari sisi aktivitas ekonomi maupun kepercayaan masyarakat domestik dan internasional.

G20 menjadi kesempatan menunjukkan kepemimpinan Indonesia di kancah internasional, khususnya dalam pemulihan ekonomi global. Dari perspektif regional, Presidensi ini menegaskan kepemimpinan Indonesia dalam bidang diplomasi internasional dan ekonomi di kawasan, mengingat Indonesia merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang menjadi anggota G20.

Mencapai “Recover Together, Recover Stronger”

Presidensi G20 tahun ini pada dasarnya berada pada posisi yang lebih berat dibanding presidensi sebelumnya, dimana tahun lalu, semua negara anggota memiliki fokus yang sama yakni ingin mendorong ekonomi domestik bertahan di tengah terpaan pandemi. 

Di tahun ini, semua negara berada pada fase pemulihan dengan struktur dan kemampuan masing-masing negara yang berbeda dan Indonesia harus mampu mengarahkan semua negara tersebut agar dapat mencapai kondisi “recover together”

Kesepahaman bersama para pemimpin negara terhadap poin-poin penting G20 menjadi suatu tujuan utama, walaupun dengan bentuk implementasi kebijakan yang berbeda. Hal ini dapat “dimaklumi” mengingat kondisi, kemampuan, dan struktur sosial masyarakat tiap negara anggota berbeda-beda. 

Jadi, kesepakatan mutlak terhadap suatu kebijakan bukanlah tujuan utama pada forum G20 ini, melainkan memberikan ruang bagi masing-masing negara menghargai strategi masing-masing dengan memperhatikan keunggulan komparatif dan kondisi struktural, budaya, serta tujuan konstitusi masing-masing negara anggota. 

Bagi Indonesia misalnya, bagaimana kesepahaman bersama di antara negara G20 dapat didetailkan menjadi tindakan konkret dan adaptif dengan kondisi nasional. 

Ekonomi hijau bukan sekadar mengadopsi teknologi, tetapi bagaimana mendefinisikan ekonomi hijau ala Indonesia; penguatan arsitektur kesehatan global, yang tidak hanya sekadar menanggulangi pandemi saat ini, tetapi mempersiapkan dunia yang lebih baik menghadapi krisis kesehatan lain ke depannya, dan kesepahaman-kesepahaman lainnya yang perlu diadaptasi dengan kondisi Indonesia. 

Poinnya ialah bagaimana masing-masing negara menuangkan kesepahaman bersama dalam presidensi G20 ini dalam setiap kebijakan masing-masing negara dengan batasan dan ketentuan yang telah disepakati bersama yakni untuk “Global Interests”, bukan “Own Interests”, guna mencapai, “recover together, recover stronger”.


-bramgarung
 Larantuka, 15 November 2022

Sabtu, 15 Januari 2022

 



APBNtalk#01

 

Pernahkah kita rehat sejenak dari rutinitas kita dan berpikir tentang negara kita, Indonesia tercinta?. Mungkin agak absurd dan aneh jika tidak ada angin, tidak ada hujan, kita berpikir tentang Negara ini; bagaimana Negara ini dikelola; bagaimana roda kehidupan masyarakat berputar, dan lain sebagainya. Namun, jika kita selami dan ulik sekilas saja, akan banyak ditemukan hal dan istilah yang menarik dalam menjalankan suatu Negara. Salah satu kata yang paling populer dan urgent dalam siklus tersebut adalah uang Negara (APBN).

Hal ini sederhananya ibarat suatu keluarga yang mengatur pendapatan dan pengeluarannya agar terjamin hidup anggota keluarganya. Begitulah semangat APBN, APBN Kita untuk memastikan anak-anak Ibu pertiwi terjamin hidup dan masa depannya. Terinspirasi dari dialog dalam Film yang sedang booming yang dibintangi Reza Rahadian dan Putri Marino , “Layangan Putus”, sudah sepantasnya APBN kita terus bekerja untuk mencapai mimpi-mimpinya; It’s Our dream, not them agar masyarakat Indonesia terjamin dari sisi kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan pelayanan dasar publik lainnya. Dalam konteks Covid-19 ini, it’s our dream agar APBN juga terus mendukung pemulihan dampak sosial dan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Direktorat Jenderal Perbendaharan, dalam Film Layangan Putus sendiri diibaratkan sebagai Lola, sahabat Kinan. Dalam film ini, Lola yang adalah seorang pengacara digambarkan sebagai pribadi yang selalu mendasari segala sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku. Sebagai bagian dari Bendaraha Negara, peran Direktorat Jenderal Perbendaharaan bukan sekedar juru bayar, namun memastikan setiap rupiah uang negara mengalir, baik melalui pemerintah pusat maupun daerah memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan perekonomian dan telah sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku.

Poinnya adalah APBN Kita bukanlah sekadar tagline belaka tetapi telah menjadi our dream dalam mewujudkan tujuan negara Indonesia. Pada akhirnya, Kita semua sampai pada konklusi bahwa Kerja keras APBN semakin nyata, niscaya kemajuan Indonesia semakin merata!!!.

 

-𝐛𝐫𝐚𝐦𝐠𝐚𝐫𝐮𝐧𝐠

Rabu, 08 Desember 2021

 BGtalk#04

Pernahkah kita men-checkout barang online karena tergiur dengan tawaran gratis ongkir?? Saya yakin tidak sedikit yang menjadikan tawaran ini sebagai pertimbangan utama dalam  berbelanja online. Sekarang ini, Tokopedia, Lazada, Shopee, dan e-commerce lainnya menjadikan gratis ongkir sebagai layanan unggulan masing-masing e-commerce. Pertanyaannya kemudian, mengapa gratis ongkir dianggap menarik??

Menurut Dan Ariely dalam bukunya yang berjudul Predictably Irational, gratis ongkir dianggap menarik karena: 

Sesuatu yang gratis memiliki daya pikat tersendiri 

Pembeli suka sesuatu yang gratis karena takut rugi dan menganggap sesuatu yang gratis tidak memiliki risiko kerugian sama sekali.   

Pembeli benci dengan biaya tak terduga

Biaya tak terduga menjadi alasan terbesar (56% responden) meninggalkan keranjang belanja online tanpa membayar berdasarkan survey WorldPay terhadap 19.000 responden.

Lalu, apa yang salah dengan fenomena gratis ongkir ini?. Menurut saya, tidak ada yang salah, namun ada yang perlu diingat yakni jangan kalap atau gegabah dengan tawaran gratis ongkir. Perlu diketahui bahwa fenomena ini adalah salah satu teknik psikologi yang lumrah di dunia pemasaran yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan. Teknik ini disebut Psychology Pricing yaitu cara penentuan harga atau strategi pemasaran berdasarkan pada teori yang meyakini bahwa harga tertentu memiliki dampak psikologis bagi pembeli. 

Misalkan saja terdapat suatu barang yang harganya Rp100.000, dan Ongkir seharusnya Rp20.000. Dengan besaran harga yang sama namun menerapkan teknik Psychology Pricing (gratis ongkir), barang ini dapat dijual dengan Harga jual Rp120.000 + Gratis Ongkir. Persepsi pembeli yang cenderung memandang sesuatu yang lebih mahal memiliki kualitas yang lebih bagus menjadikan pilihan harga kedua sebagai pilihan ideal dan 'menguntungkan'. Barang yang sama, namun teknik ‘jualnya’ yang berbeda. Boom!!! Psychology Pricing ‘trap’ is coming!!!.

Poinnya adalah jangan sampai fenomena gratis ongkir malah membuat kita merogoh kocek lebih dalam karena takut kehilangan momen promo. Kemampuan mengelola keuangan menjadi urgen dibutuhkan agar uang yang ada dapat dimanfaatkan untuk sesuatu  yang added value nya minimal sebanding dengan cost yang dikeluarkan. Jangan cepat tergiur dengan gratis ongkir, sebelum checkout, jangan lupa pikir-pikir ya Bund….

 

-bramgarung

Rabu, 04 Agustus 2021

Ilustarsi Literasi Keuangan

Oleh Abram N. D. Garung

(Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN)


Dalam masa pandemi covid-19 kita sering menyaksikan berbagai “inovasi” dalam hal keuangan yang baru sebagai dampak dari banyaknya pemutusan hubungan kerja dan pembatasan sosial masyarakat. Begitu banyak orang dalam berbagai ragam profesi atau latar belakang menawarkan-ditawarkan “peluang” keuangan baru berupa instrumen investasi seperti saham, reksadana, cryptocurrency, forex, peer to peer lending, dan lainnya yang kerap kali masih terlihat awam di tengah masyarakat. Tak jarang, pinjaman online menjadi masif untuk merealisasikan “investasi” tersebut.

Bursa Efek Indonesia misalnya (Sindonews.com, 26/02/2021), mencatat jumlah investor sebanyak, 3,9 juta Single Investor Identification (SID) atau melonjak 56% dibandingkan posisi di akhir tahun 2019. Keuntungan investasi yang besar terkadang membuat orang-orang (baca: investor) melakukan segala cara untuk dapat mengakumulasi modal untuk melakukan investasi, termasuk melalui pinjaman online. 


Padahal, investasi harusnya dimodali menggunakan uang yang tak terpakai (idle cash). Kurangnya literasi mengenai keuangan menjadi masalah tersendiri di tengah peningkatan volume investasi.


FoMO: Takut Ketinggalan “Kereta”

Gerakan masif memulai investasi di masa pandemi merupakan bentuk konfirmasi bahwa masyarakat Indonesia memiliki masalah finansial yang urgen untuk diperhatikan. Gerakan ini banyak diinisiasi oleh suatu trend di masyarakat yang membuat banyak orang takut ketinggalan kereta; takut kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan secara finansial, tanpa memiliki pemahaman yang komprehensif pada instrumen investasi terkait. Boom, masyarakat terjerat FoMO!!!.


Hodkinson & Poropat (2014) mendefinisikan Fear of Missing Out sebagai ketakutan individu untuk tertinggal dan kehilangan seseorang. Fear of Missing Out (FoMO) dalam kamus Oxford didefinisikan sebagai kecemasan akan adanya peristiwa menarik atau mungkin hal menarik yang terjadi di tempat lain, kecemasan ini terstimulasi oleh hal yang ditulis di dalam media sosial seseorang/sesuatu. 


Menurut Przybylski dkk (2013), di dalam Fear of Missing Out, terdapat tiga komponen untuk mengungkapkan kepuasan hidup, yaitu ketakutan kehilangan peristiwa atau aktivitas berharga, ketakutan kehilangan pengalaman berharga, dan ketakutan kehilangan percakapan dalam lingkaran sosial.


Kasus bunuh diri yang terjadi di Jakarta Selatan, pertengahan Maret 2021 yang diduga akibat merugi di pasar modal, atau kasus yang menghebohkan dunia internasional, ketika seorang pria di China yang bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke tungku api pembakaran baja medio April lalu merupakan beberapa dari rentetan kasus akibat merugi dalam investasi, dalam hal ini berupa saham atau pasar modal. Hal serupa juga terjadi pada instrumen lain seperti forex, criptocurrency, dan lain sebagainya.

Hemat penulis, FoMO (baca: mengikuti trend) dengan pengetahuan finansial (investasi) yang rendah, baik berupa money management, mental, dan aspek pengetahuan dasar literasi keuangan lainnya yang menjadi penyebab masih maraknya kasus-kasus serupa terjadi dalam dunia investasi. Di sinilah pentingnya membangun kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Kolaborasi merupakan bentuk ejawantah dari pemerintahan partisipatif yang sering didengungkan para pakar. Pada tataran ini, maka sungguh diharapkan peran serta pemerintah dan lapisan masyarakat mengenai edukasi keuangan, terutama di saat trend investasi kian menjamur di hampir seluruh lapisan sosial masyarakat. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, dituntut untuk kreatif dan inovatif mengoptimalkan literasi keuangan ini.

Optimalisasi Literasi Keuangan

Adanya korelasi yang erat antara tingkat literasi keuangan dengan pengelolaan keuangan personal maupun institusional mengisyaratkan peningkatan pemahaman literasi keuangan yang komprehensif merupakan suatu keniscayaan. Optimalisasi literasi keuangan merupakan tanggung jawab dan tantangan tersendiri bagi para stakeholder dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dan akurat menuju peningkatan pemahaman pengelolaan keuangan masyarakat.


Organisation for Economic Co-operation and Development atau OECD (2016) mendefinisikan literasi keuangan sebagai pengetahuan dan pemahaman atas konsep dan risiko keuangan, berikut keterampilan, motivasi, serta keyakinan untuk menerapkan pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya tersebut. Hal ini adalah dalam rangka membuat keputusan keuangan yang efektif, meningkatkan kesejahteraan keuangan (financial well being) individu dan masyarakat, dan berpartisipasi dalam bidang ekonomi.


Carpena et.al (2011) menyatakan ada 3 (tiga) dimensi dari literasi keuangan yaitu (1) keterampilan menghitung, (2) pemahaman tentang keuangan dasar, dan (3) sikap terhadap keputusan keuangan. 


Pengetahuan keuangan yang dimiliki oleh seseorang inilah yang kemudian berkembang menjadi keterampilan keuangan, dimana keterampilan keuangan ini yang menjadi kalkulasi seseorang dalam menentukan keputusan keuangan seseorang. Keterampilan keuangan memungkinkan seseorang untuk dapat mengambil keputusan yang rasional dan efektif terkait dengan keuangan dan sumber ekonominya.


Adanya literasi keuangan yang baik secara ekplisit akan mereduksi atau bahkan mengeliminasi kesalahan masyartakat terjebak dalam jeratan investasi tanpa kompetensi, baik dalam instrumen seperti saham, reksadana, forex, cryptocurrency, dan lain-lain. Literasi keuangan yang baik menjadi penangkal gerakan FoMo investasi karena pada dasarnya individu ataupun institusi telah memiliki keterampilan, pemahaman, serta sikap yang independen dalam menentukan pilihan investasinya.


Pertanyaan selanjutnya, bagaimana literasi keuangan ini bergerak secara optimal? Hal mendasar yang harus dilakukan ialah membangun komitmen semua pihak untuk bahu-membahu meningkatkan literasi keuangan secara padu dan simultan.


Menuju Masyarakat Indonesia Well Literate

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini dapat dikatakan belum sepenuhnya well literate. Hal ini ditunjukkan oleh hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2019 yang menunjukkan indeks literasi keuangan hanya sebesar 38,03%. 


Angka ini dinilai masih sangat rendah jika dibandingkan dengan populasi penduduk Indonesia serta memiliki persebaran yang kurang merata. Tujuan keuangan masyarakat Indonesia juga masih berfokus pada kebutuhan jangka pendek dalam melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan.


Pemerintah dan berbagai instansi jasa keuangan terkait sebagai pemangku kepentingan sudah seyogyanya semakin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan melalui edukasi keuangan secara berkesinambungan dengan memprioritaskan kebutuhan wilayah, sasaran, dan/atau sektoral tertentu. 


Mensinergikan materi edukasi keuangan ke dalam kurikulum pendidikan nasional pada setiap jenjang pendidikan formal dapat menjadi core action dalam rangka meningkatkan indeks literasi keuangan di Indonesia.


Pengembangan infrastruktur penunjang seperti membangun database nasional materi literasi keuangan, mendorong penggunaan media berbasis teknologi informasi dalam edukasi keuangan termasuk pengembangan e-learning, memfasilitasi dan mendorong pendirian pusat riset literasi keuangan di berbagai perguruan tinggi/lembaga/ pemerintah baik pusat maupun daerah, dan lain sebagainya merupakan opsi absolut yang harus diaktualisasikan guna mencapai masyarakat Indonesia yang well literate.


Pada kondisi sekarang ini, dengan literasi keuangan yang well literate, setidaknya kita dapat meminimalisasi risiko investasi, ibaratnya kita tidak lagi membeli kucing dalam karung, sehingga FoMO yang menjamur saat ini bukan lagi menjadi suatu ancaman, melainkan peluang mengetahui dan mendalami instrumen investasi dan keuangan yang baru, dengan catatan diiringi dengan literasi; kompetensi keuangan yang mumpuni dan komprehensif. Semoga

 

Sabtu, 31 Juli 2021

  BGvideo#05

      𝐇𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐌𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐞𝐫𝐚𝐬 𝐌𝐚𝐦𝐚 adalah puisi kedua yang saya tulis terinspirasi dari seorang penulis dan pujangga muda dari Ambon, Eko Saputra Poceratu. Sama seperti Eko, rima adalah ciri khas utama dalam puisi ini, ditambah penggunaan logat yang khsa, semoga...

Bintaro, 20 Januari 2021