Just another free Blogger theme

Selasa, 14 Agustus 2018




“Peminum yang mabuk dinihari”

: yang kutemukan di pelataran pagi

Ia meneguk tuak yang sudah bosan
Menengok kusam mulutnya
Matanya tak benar-benar dikenal
Meski oleh sahabat karibnya

Laki-laki itu tak mau merintih
Air liurnya sudah hanyut di puntung rokok
Dan meskipun asbak berulang kali
mengeluh geram
arus waktu rupanya enggan menagih
detak jam

Malah malam sekarat di balik rompi ketatnya
dan sisa hari dibungkamnya di bibir sebelah dalam
celetup peminum, letupan tuak terakhir
yang belum sempat dihujamkan

tersaruk-saruk ia menyeka bayangan tubuhnya
keringat darah mengguyur pipinya yang memerah
sehingga sisa-sisa tuak melumuri rompi seksinya

jari beningnya meleleh pekat
ia minum dan mabuk dan telapak tangannya
mengibaskan bayangan hitam orang yang mati, dinihari....


                

                                                                                                                           Borong, medio Juli 2018


















“Pasar Borong
:mata masih ada. Ia tidak ke mana-mana

Pasar Borong. Tempatnya di belakang pertokoan
Di butut kota yang sumpek dan riuh
Saya suka iseng main ke sana, mengamati tingkah
Seorang lelaki penjual koli yang sering datang
 menemui perempuan gembrot penjual raci yang dengkurnya menggelegar 
di antara kerumunan penjual bawang, jerit radio, 
dan suara orang-orang kedinginan

Ia lelaki melankolis. Kadang mengaku sebagai ata mbeko, 
kadang menyebut dirinya dalu Cibal
Tapi banyak yang bilang ia cucu sulung dari kemelaratan, 
menantu bungsu dari kemiskinan atau 
anak yang hilang dari kemakmuran.

Ia suka minum, merokok koli dan kalau mabuk,
Tubuhnya yang kurus tertanam lesu 
di pangkuan si perempuan gembrot yang selalu sabar menjilat asap koli nya

Sampai keesokan paginya lelaki itu masih tertidur pulas di sebelah mimpi si gembrot 
yang tak kurus-kurus.

Pasar Borong masih sama saja
Mas Jawa masih menjajakan barang lelangnya
Jalanan berlubang masih setia berbaring di samping ibu penjaja ikan
 di antara penjual sayur dan bandar tuak

Saya tidak bilang si perempuan gembrot masih seibu dengan perzinahan.tapi.....
Ia masih menyadap asap di dekapan penjual koli

                                             

                                                                                    Borong, medio juli 2018









“Berdua dengan Sandal”

:Bergita, ada kamu juga di sana

Pada natalan tahun lalu, aku dongkol saja seharian
Maklum, celana lagi mudik di kampung pamannya
Jadi, tinggal aku dan sandal saja di rumah

Sandal dari tadi murung saja
Diseduhnya secangkir kopi dengan tatapan hampa
Sepertinya ia rindu pulang kampung,
rindu mengemas  barang-barang, rindu macet-macetan di jalanan, 
dan tidur-tiduran dekat terminal Borong.
Ia juga paling rindu sesak-sesakkan dengan sepatu hak tinggi yang dikenalnya kali lalu.

“Ayo, kita jalan-jalan”, aku menarik kesimpulan.


                                                Borong, 15/05/18





























“Sandal Ibu”
:hanya untuk kamu tahu, Bergita

Alhamdulilah, kemarin sandal ibu sudah boleh pulang
Sudah seminggu ia melongo di pintu masuk UGD, menunggu pemiliknya yang 
masih main tutup-tutupan mata

Namun kali ini ia pulang sendiri naik ambulance
Ia duduk di kursi depan, membokongi cacing berbaju putih 
yang kedinginan di bak belakang.

“mana ibu?”, aku terlihat heran

Borong, 02/06/18
























































( Bram Garung, bergiat di kelompok sastra BEKAS
Tinggal Borong)


Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

6 komentar: