“Peminum
yang mabuk dinihari”
: yang
kutemukan di pelataran pagi
Ia meneguk tuak yang
sudah bosan
Menengok kusam mulutnya
Matanya tak benar-benar dikenal
Meski oleh sahabat karibnya
Laki-laki itu tak mau merintih
Air liurnya sudah hanyut di puntung rokok
Dan meskipun asbak berulang kali
mengeluh geram
arus waktu rupanya enggan menagih
detak jam
Malah malam sekarat di balik rompi ketatnya
dan sisa hari dibungkamnya di bibir sebelah dalam
celetup peminum, letupan tuak terakhir
yang belum sempat dihujamkan
tersaruk-saruk ia menyeka bayangan tubuhnya
keringat darah mengguyur pipinya yang memerah
sehingga sisa-sisa tuak
melumuri rompi seksinya
jari beningnya meleleh pekat
ia minum dan mabuk dan telapak tangannya
mengibaskan bayangan hitam orang yang mati,
dinihari....
Borong, medio Juli 2018
“Pasar Borong”
:mata masih
ada. Ia tidak ke mana-mana
Pasar Borong. Tempatnya
di belakang pertokoan
Di butut kota yang sumpek dan riuh
Saya suka iseng main ke sana, mengamati tingkah
Seorang lelaki penjual
koli yang sering datang
menemui
perempuan gembrot penjual raci yang
dengkurnya menggelegar
di antara kerumunan penjual bawang, jerit radio,
dan suara orang-orang kedinginan
Ia lelaki melankolis. Kadang mengaku sebagai ata mbeko,
kadang menyebut dirinya dalu Cibal
Tapi banyak yang bilang ia cucu sulung dari
kemelaratan,
menantu bungsu dari kemiskinan atau
anak yang hilang dari kemakmuran.
Ia suka minum, merokok koli dan kalau mabuk,
Tubuhnya yang kurus tertanam lesu
di pangkuan si
perempuan gembrot yang selalu sabar menjilat asap koli nya
Sampai keesokan paginya
lelaki itu masih tertidur pulas di sebelah mimpi si gembrot
yang tak kurus-kurus.
Pasar Borong masih sama
saja
Mas Jawa masih
menjajakan barang lelangnya
Jalanan berlubang masih setia
berbaring di samping ibu penjaja ikan
di antara penjual sayur dan bandar tuak
Saya tidak bilang si perempuan gembrot masih seibu
dengan perzinahan.tapi.....
Ia masih menyadap asap di dekapan penjual koli
Borong, medio juli 2018
“Berdua
dengan Sandal”
:Bergita,
ada kamu juga di sana
Pada natalan tahun lalu, aku dongkol saja seharian
Maklum, celana lagi mudik di kampung pamannya
Jadi, tinggal aku dan sandal saja di rumah
Sandal dari tadi murung saja
Diseduhnya secangkir kopi dengan tatapan hampa
Sepertinya ia rindu pulang kampung,
rindu mengemas barang-barang,
rindu macet-macetan di jalanan,
dan tidur-tiduran dekat terminal Borong.
Ia juga paling rindu sesak-sesakkan dengan sepatu hak tinggi yang
dikenalnya kali lalu.
“Ayo, kita jalan-jalan”, aku menarik kesimpulan.
Borong,
15/05/18
“Sandal Ibu”
:hanya untuk kamu tahu, Bergita
Alhamdulilah, kemarin sandal ibu
sudah boleh pulang
Sudah seminggu ia melongo di pintu
masuk UGD, menunggu pemiliknya yang
masih main tutup-tutupan mata
Namun kali ini ia pulang sendiri naik
ambulance
Ia duduk di kursi depan, membokongi
cacing berbaju putih
yang kedinginan di bak belakang.
“mana ibu?”, aku terlihat heran
Borong, 02/06/18
( Bram
Garung, bergiat di kelompok sastra BEKAS
Tinggal Borong)
Keren puisinya Kk Bram.. belajar terus biar bisa menjadi WS Bram Rendra ๐
BalasHapusMaksih apresiasi dan sarannya...sangat bermanfaat๐
BalasHapusAliran Jokpin e๐๐ค
BalasHapusHaha.. mw kin e tanti...
HapusMantap ee ganteng
BalasHapusMaksih eja.. 1๐
Hapus