Just another free Blogger theme

Selasa, 09 Maret 2021

 

BGtalk#02

Hal yang mungkin lumrah terjadi di kalangan ibu-ibu dan bahkan kita semua yaitu kita  sering tergiur saat berbelanja di tempat perbelanjaan yang kita datangi. Para pedagang dengan berbagai macam bujuk-rayu berusaha menggaet pelanggan untuk membeli atau menggunakan jasa yang ditawarkan. Salah satu teknik yang banyak digunakan baik sadar atau tidak oleh pedagang ialah decoy effect.

Decoy effect adalah teknik psikologi yang berkaitan erat dengan dunia pemasaran. Efek tersebut akan membuat orang memilih produk yang harganya paling mahal. Tak mengherankan bila teknik ini masih terus dipraktikkan oleh tim pemasaran. Karena dampaknya cukup efektif untuk meningkatkan omset penjualan. Efek tersebut akan membuat kita merasa bahwa kita sudah memilih yang termurah untuk mendukung upaya penghematan pribadi.

    Adapun bentuk dari decoy effect yang paling umum ditemukan, antara lain:
1. Produk yang Lebih murah dengan Harga Grosir
Mungkin kita pernah membeli produk secara grosir karena harganya dianggap  lebih murah. Misalnya:


• 1 buah tas harganya Rp 50.000
• 2 buah tas harganya Rp 95.000
• 3 buah tas harganya Rp 135.000

Kemungkinan besar kita akan tergiur membeli 3 buah tas sekaligus dengan harga Rp 135.000 karena dianggap lebih murah dan menguntungkan. Kenyataannya, belum tentu kita benar-benar membutuhkan ketiga buah tas tersebut. Terutama jika model tas tersebut sama, hanya berbeda warna. Inilah yang disebut decoy effect. Anda akan merasa sangat beruntung membeli 3 buah dengan harga Rp 45.000 per buah. Sebenarnya, pengeluaran Anda justru lebih hemat kalau Anda hanya membeli 1 tas seharga Rp 50.000. Hal yang sama berlaku pada jenis barang/jasa lainnya yang banyak kita jumpai misalnya baju, makanan, minuman, dan lain-lain.


2. Produk Berukuran Kecil, Sedang, Besar

Ilustrasi


    Bentuk decoy effect lainnya dilakukan untuk menjual produk dengan ukuran berbeda. Contohnya produk pop corn dengan tiga ukuran:


• Kecil seharga Rp 25.000
• Sedang seharga Rp 40.000
• Besar seharga Rp 45.000


Penentuan harga tersebut biasanya menyebabkan pop corn ukuran besar lebih diminati. Karena mayoritas orang merasa selisih harga pop corn berukuran sedang dan besar sangat sedikit. Padahal, kita harus menyesuaikan pilihan ukuran pop corn dengan kebutuhan kita. Justru kita tak perlu membeli pop corn yang ukurannya terlalu besar bila pop corn tersebut akan mubazir. Pertimbangan tersebut sangat penting, terutama ketika kita membeli barang-barang yang tak bisa disimpan dalam waktu lama.


Poinnya adalah jangan sampai keinginan "berhemat" malah membuat kita dan juga 'bundahara' merogoh kocek lebih dalam dari biasanya.
Hal yang patut  dikhawatirkan sebagai dampak dari fenomena decoy effect ini ialah kurangnya kemampuan mengelola keuangan yang menyebabkan uang yang semestinya digunakan untuk kepentingan urgent/prioritas lain justru 'dihabiskan' untuk sesuatu  yang added value nya tidak sebanding dengan cost yang dikeluarkan.
Hati-hati dengan kata "murah". Salah bertindak kantong kita, kantong bundahara bisa gerah. 


-bramgarung

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

2 komentar:

  1. Sekali2 beli harga mahal langsung dapat 3 buah tidak apa2 kali min๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting sesuai skala prioritas saja. Dan setidaknya added value dari apa yang dibeli tersebut lebih besar/tinggi dari cost yang dikeluarkan. ๐Ÿ˜‡๐Ÿ™

      Hapus