Just another free Blogger theme

Selasa, 06 April 2021

 BGtalk#03
Ilustrasi Gambar

 

     Masihkah kita ingat pada tahun 2015, yang mana tren batu akik yang menjamur hampir ke pelosok-pelosok negeri?. Saat itu, batu akik dihargai sangat mahal, dari ratusan juta bahkan sampai miliaran rupiah. Tapi, pernakah kita berpikir, kenapa tiba-tiba batu akik dapat dihargai semahal itu?.

            Fenomena ini dikenal dengan ๐—ฒ๐—ฐ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ถ๐—ฐ ๐—ฏ๐˜‚๐—ฏ๐—ฏ๐—น๐—ฒ atau gelembung ekonomi. Kondisi ini ditandai dengan histeria massa yang membuat para spekulan dan masyarakat berspekulasi terkait nilai dari sebuah barang. Hal ini membuat barang atau entitas tersebut semakin menarik, diminati, dan diburu oleh masyarakat.

            Histeria massa tersebut dibuktikan oleh tren pencarian batu akik di Google pada tahun 2015 sangat melejit, menjamurnya penjual batu akik dadakan, dan juga makin mahalnya harga batu akik saat itu di pasaran. Kenaikan harga tersebut makin tidak terkendali sampai akhirnya harga barang tersebut sudah jauh melebihi nilai intrinsiknya. Saat itu, sebongkah kecil batu akik bisa dihargai sampai miliaran rupiah. Di sisi lain, ketika pasar tidak mampu membeli lagi karena harganya yang terlampau mahal, akan terjadi penurunan harga secara signifikan. Gelembung lambat-laun akan: PECAH!!!

            Masyarakat yang sebelumnnya berburu dan membeli batu akik akhirnya berlomba untuk menjual batu akiknya. Harga batu akik tersebut terus menurun sampai tekanan jual dari masyarakat mereda. Itulah fenomena ekonomi yang terjadi saat batu akik mencuri perhatian masyarakat beberapa tahun silam. Fenomena ini adalah salah satu financial trap yang seringkali merugikan banyak pihak yang belum memahami fenomena ini secara komprehensif. Lantas, apakah fenomena tannaman hias seperti janda bolong (Monstera adansonii) akhir-akhir ini juga merupakan bubble economy?. Yang jelas, spekulan selalu menciptakan produk untuk dipermainkan. 

        Hal yang perlu kita ingat, menurut teori bapaknya ilmu pemasaran, Philip Kotler, harga berhubungan erat dengan nilai dan manfaat. Harga jual janda bolong, faktanya tidak mengikuti konsep tersebut dan nilai dari produk yang konsumen dapatkan dari janda bolong dapat dikatakan tidak sesuai dengan puluhan juta rupiah yang dikeluarkan untuk membeli. Hal ini dikecualikan untuk produk koleksi seperti lukisan, perangko, atau mobil antik karena berbeda pada motifnya yakni untuk dicintai dan disukai (koleksi) sehingga harga tidak menjadi pertimbangan utama lagi. Berbeda halnya dengan janda bolong yang sebagian besar diburu untuk mendapatkan uang yang lebih besar saat dijual. Motif Investasi.

            Intinya, jika kita berhasrat untuk memiliki janda bolong atau hal lain yang sedang menjadi tren, hendaknya memperhatikan motif kita dalam memiliki barang tersebut, apakah untuk investasi atau sebatas koleksi. Jika hal tersebut adalah sebuah investasi, ingat bahwa bisnis semacam ini hanya berlaku sementara. Jangan membeli secara membabi buta. Percayalah, tidak ada profit yang tinggi lewat cara yang instan. Jika ini adalah sebuah barang koleksi, nikmatilah selagi raga dan jiwa kita masih sempat menikmatinya, enjoy it....

 

-bramgarung-

 

 

 

 

Categories:


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque volutpat volutpat nibh nec posuere. Donec auctor arcut pretium consequat. Contact me 123@abc.com

0 komentar:

Posting Komentar